Mengalirnya Barang-Barang Impor dan Gaya Hidup (Mewah) Kita

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Acapkali kita mendengar, himbauan-himbauan, baik dari para para pakar maupun pejabat terkait untuk tak membeli barang-barang mewah dari luar negeri. Alasannya utamanya adalah penghematan devisa.

Menyetop membeli barang-barang impor,  kurang lebih sama dengan menghentikan laju kenaikan dollar. Makanya tak perlu ditanggapi dengan sinis, saat ada himbauan seperti itu. Justru sebaliknya harus didukung dengan cara membeli produk-produk dalam negeri.

Apalagi membeli barang-barang mewah, pastinya lebih banyak pemborosan devisa.  Membeli tas hermes, beli sepde tronton, mobil ferari, dan semacamnya  adalah contoh barang-barang yang bernilai lux yang memboroskan devisa.

Membeli barang mewah berarti membeli kesan (mewah). Belum tentu dari sisi manfaat (practical value) memberi nilai tambah. Berbeda halnya bila kita mengimpor barang-barang yang memang tak bisa dihindarkan, karena itu merupakan kebutuhan pokok, seperti kedelai, suku cadang mesin, dan semacamnya. Itu memang tak bisa dihindarkan.

Kendati harga kedele mahal tetap saja dibeli, seperti yang terjadi beberapa kali di negeri kita.  Lantaran komoditi tersebut didatangkan dari negeri Paman Sam, maka apabila dollar naik, harga kedele dan turunan-turunannya pun ikut naik.

Tak bisa ditawar-tawar, warga tetap saja membelinya, karena tahu dan tempe sudah menjadi konsumsi sehari-hari bagi mayoritas warga Indonesia.

Itulah nasib bangsa yang tidak mandiri secara pangan, seperti Indonesia. Walau memang sangat jarang terjadi ada negara yang benar-benar mandiri dalam semua hal.

Tetapi mungkin sedikit kita perlu belajar dari Turki yang beberapa kali mengalami kondisi mata uang Lira, yang jauh lebih terpuruk. Dimana Turki mampu mengatasinya dengan cara menyetop membeli barang-barang impor. Kemudian juga dengan cara membuat gerakan bersama untuk melepas dollar. Dan terbukti efektif menyelamatkan negara mereka.

READ  Bertahan di Masa Pandemi, Desainer Hetty Sinaga Berjuang Demi Penenun

Di sini bisa juga berlaku pameo, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa berhemat. Ada prinsip yang menyatakan bahwa lebih baik mengendalikan apa yang bisa kita kontrol  di dalam negeri dari pada berharap perbaikan kondisi dari luar. Satu-satunya yang bisa kendalikan adalah bagaimana masyarakat bijak dalam membelanjakan uang mereka.

Gaya hidup hemat kuncinya. Jangan terjebak dengan cara hidup konsumtif. Dan jangan sampai terjebak masuk kedalam cara hidup konsumerisme global.   Dahulukan aspek manfaat dan fungsionalnya, dari pada aspek kesan mewahnya. (ILP/IJS)

Bagikan:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on email

Leave a Replay